Studi ke Perguruan Tinggi dan Kualitas SDM

Buat apa sekolah, kalau lulus hanya menganggur. Pendidikan adalah sasaran antara, karena setelah lulus diharapkan dapat berkerja guna memenuhi kebutuhan hidup. Dengan bekerja seseorang mendapatkan konpensasi secara berkala, bisa harian, mingguan atau bulanan.

Daya beli masyarakat yang cenderung, manjadikan jasa pendidikan adalah barang mahal.

Seorang anak yang baru menginjak umur 14 tahun memiliki prestasi akademik luar biasa. Ia diterima menjadi mahasiswa fakultas kedokteran di PTN ternama diYogyakarta. Banyak orang kagum sekaligus iri, kapan dirinya atau orang dekatnya bisa mengikuti jejaknya. Sayangnya sebelum kekaguman itu berakhir, tiba-tiba kekaguman itu sekejap hilang. Ternyata prestasi yang luar biasa, ini harus ditebus dengan sejumlah uang masuk yang luar biasa pula. Uang 80 juta mungkin bagi seorang pengusaha sukses, manajer BUMN, Staf BI tidaklah besar. Sebaliknya uang tersebut sangatlah besat dan mustahil bila harus dikeluarkan oleh seorang petani, buruh, PNS, Prajurit TNI, bahkan bagi seorang Guru atau Dosen.

Begitu mahalnya penyelenggaraan pendidikan. Di suatu kesempatan seorang pakar pendidikan Dr. Arief Rahman pernah, mengatakan bahwa pendidikan yang bermutu memerlukan dana yang besar. Artinya kalau sepenuhnya sumber dana penerimaan sebuah perguruan hanya dari peserta didik, maka dapat dipastikan hanya anak orang kaya saja yang dapat menikmati pendidikan yang bermutu. Sebaliknya bagi anak yang kurang beruntung karena dilahirkan dari orang tua yang kurang mampu jangan banyak berharap bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di pelosok negeri, seperti di Bantul Yogyakarta, dimana seluruh siswa peserta UAN tidak luluas. Padahal nilai minimal kelulusan adalah 4,01 keatas. Di kota-kota besar pun tidak sedikit siswa-siswa harus mengulang. Secara Nasional siswa yang tidak lulus dan harus mengulang kurang lebih 20% dari jumlah peserta UAN keseluruhan.

Si Bejo anak Bojong Gede – Bogor, salah seorang yang tidak beruntung karena diharuskan mengulang UAN, sedikit beralasan bahwa banyak pelajaran yang tidak Ia kuasai ternyata justeru ditanyakan dalam lembar soal ujian. Si Farah siswa SMA di jakarta juga tidak kaget, ketika dinyatakan harus mengulang, Katanya soalnya sulit dan waktunya terasa singkat.

Itulah cuplikan hiruk-piruk ujian Nasional yang sempat menjadi isu panas antara pemerintah dengan DPR. Terjadi tarik menarik antar elite, ada yang setuju dengan batas nilai kelulusan, tetapi sebaliknya pihak DPR menganggap persyaratan itu terlalu berat dan kuatir akan banyak jatuh korban “Tidak lulus”.

Akhirnya diambil jalan tengah antara pemerintah dan DPR, batas nilai disetujui dengan catatan tetap diberi kesempatan untuk ujian nasional ulang.

Sekedar catatan (Sumber: http://www.mediaindo.co.id), Indonesia selama tiga dekade terakhir mencatat berbagai kemajuan dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) dengan adanya indikasi membaiknya berbagai indikator SDM sejak 1960 hingga 1999. Namun, berbagai indikator SDM Indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya.

“Pembangunan SDM nasional selama tiga dekade terakhir terus membaik,” kata Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Kwik Kian Gie, ketika membuka Tinjauan Paruh Waktu Program Kerja Sama Pemerintah RI dan UNICEF tahun 2001-2004, di Jakarta,kemarin.


Berbagai perbaikan indikator SDM dari 1960 hingga 1999, kata Kwik, antara lain ditunjukkan dengan usia harapan hidup rata-rata meningkat dari 41,0 tahun menjadi 66,2 tahun. Selain itu, juga angka kematian bayi turun dari 159 menjadi 48 per 1.000 kelahiran hidup, serta angka buta huruf dewasa turun, menurun dari 61% menjadi 12%. Namun, tambah Kwik, berbagai indikator SDM Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan dengan prestasi negara ASEAN, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia.


Hal ini terlihat antara lain dari rendahnya peringkat indeks pembangunan manusia (IPM) yang mencakup angka harapan hidup, angka melek huruf, angka partisipasi murid sekolah, dan pengeluaran per kapita.


“Berdasarkan Human Development Report 2003, peringkat human development index (HDI) Indonesia menempati urutan 112 dari 175 negara,” kata Kwik. Selain itu, jika dipilih menurut jenis kelamin, dengan menggunakan nilai indeks pembangunan gender (IPG), Indonesia menempati urutan ke-91 dari 155 negara.


Kwik menambahkan, Indonesia saat ini dihadapkan pada kondisi melambatnya pencapaian indikator-indikator di bidang pembangunan SDM, antara lain disebabkan oleh kondisi ekonomi dan sosial politik serta ketahanan dan keamanan yang kurang menguntungkan. “Oleh karena itu, salah satu tantangan besar bagi Indonesia adalah bagaimana untuk kembali mencapai kemajuan pesat yang pernah diraih sebelumnya,” katanya.


Sementara itu, Dirjen Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri (Depdagri) Seman Widjojo mengatakan bahwa rendahnya kualitas sumber daya manusia tersebut akibat pembangunan Indonesia hanya berorientasi pada upaya mengejar pertumbuhan ekonomi. “Tetapi mengesampingkan perbaikan kualitas manusia, sehingga hal tersebut akan menimbulkan berbagai problema sosial dan kesenjangan,” tegas Seman.


Menyikapi persoalan tersebut, Kwik dan Seman mengatakan bahwa perlu adanya upaya pembangunan kualitas SDM Indonesia. Seman mengatakan pemerintah daerah perlu mendorong pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terhadap upaya tersebut, bahkan sejak usia dini di daerah. “Alokasi APBD yang umumnya terserap untuk operasional birokrasi saat ini, kiranya lebih diarahkan bagi pengeluaran pembangunan, khususnya untuk perbaikan kualitas manusia Indonesia,” katanya.

Harus jujur kita katakan dalam membangun kualitas manusia bangsa ini memang tidak punya komitmen jelas. Namun, ini belum kiamat. Sekarang kita harus memulainya. Sekaranglah saatnya kita mulai bicara membangun sumber daya manusia dengan harapan. Sebagai peneguh spirit, sekurang-kurangnya potensi-potensi individu kita di banyak bidang tidak mengecewakan.

Kita punya banyak anak bangsa yang berjaya di ajang Olimpiade Fisika. Kita punya banyak nama dari berbagai bidang yang berjaya kelas dunia. Namun, memang menjadi merapuh jika bicara kekuatan bangsa secara kolektif…….

Pembangunan kualitas bangsa harus berorientasi perbaikan kualitas manusia Indonesia. Peranan perguruan tinggi sebagai pencetak manusia yang berkualitas sangat diharapkan kita semua. Alokasi 20% dari APBN bagi sektor pendidikan perlu segera direalisasikan, guna mendukung pelayanan pendidikan bagi seluruh rakyak. Jadi sekolah atau bahkan kuliah di perguruan tinggi bukan hanya bagi orang kaya saja.

Leave a Comment